Web Toolbar by Wibiya r3ndri'5 Blogs: Islam | Mabhats
[tutup]
Tampilkan postingan dengan label Islam | Mabhats. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam | Mabhats. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Januari 2012

Siapa Sebenarnya Pembangkit Radikalisme Dan Terorisme Modern Di Tengah Umat Islam?

(Oleh : Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA)
Dunia internasional secara umum dan negeri-negeri Islam secara khusus, telah  digegerkan oleh ulah segelintir orang yang menamakan dirinya sebagai pejuang kebenaran. Dahulu, banyak umat Islam yang merasa simpatik dengan ulah mereka, karena sasaran mereka adalah orang-orang kafir, sebagaimana yang terjadi di gedung WTC pada 11 September 2001. Akan tetapi, suatu hal yang sangat mengejutkan, ternyata sasaran pengeboman dan serangan tidak berhenti sampai di situ. Sasaran terus berkembang, sampai akhirnya umat Islam pun tidak luput darinya. Kasus yang paling aktual ialah yang menimpa Pangeran Muhammad bin Nayif Alus Sa’ûd, Wakil Menteri Dalam Negeri Kerajaan Saudi Arabia.

Kiat Mengatasi Terorisme Di Tengah Kaum Muslimin

(Oleh: Ustadz Ahmas Faiz bin Asifuddin)
Ada beberapa cara yang secara teoritis dapat ditempuh oleh kaum Muslimin dan pihak-pihak berkepentingan untuk mengatasi dan memutus berlangsungnya kegiatan teror. Namun, secara praktis memerlukan kesungguhan dan keikhlasan kerja dari berbagai pihak. Motivasi yang mendorong kerja keras ini, yang paling pokok adalah keimanan kepada Allâh Ta'âla, dengan maksud mencari ridha serta pahala-Nya. Sehingga yang diutamakan adalah kemaslahatan dan kepentingan umum, bukan kemaslahatan dan kepentingan pribadi. Dengan demikian, akan tercipta upaya penanggulangan bersama, dalam lingkup ta’âwun ‘alal al-birri wat-taqwa (tolong menolong serta kerjasama berdasarkan kebaikan dan ketakwaan), bukan atas dasar berebut kepentingan duniawi yang memicu persaingan tidak sehat dan saling mencurigai.

16 Kesalahan Aksi Pengeboman[*]

(Mabhats: Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIII)
Aksi pengeboman yang dilakukan oleh kelompok tertentu dan juga orang-orang yang melampaui batas (dzalim) yang memiliki pemikiran yang sesat itu merupakan tindakan dosa dan termasuk perbuatan aniaya dan permusuhan, serta mengakibatkan kerusakan di muka bumi. Tindakan ini juga menyelisihi ajaran Islam yang lurus.
Berikut ini penjelasan hukum berdasarkan dalil syariat untuk mengetahui buruknya aksi pengeboman dan besarnya dosa perbuatan itu, serta hukumnya dalam pandangan Islam.
1.
Islam memerintahkan berbuat adil, kebaikan, dan kasih sayang, serta melarang berbuat kemungkaran dan permusuhan, berdasarkan firman Allâh Ta'âla yang artinya:
“Sesungguhnya Allâh menyuruh (kamu)
untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan,
memberi kepada kaum kerabat,
dan Allâh melarang dari perbuatan keji,
kemungkaran dan permusuhan,
Allâh memberi pengajaran kepadamu
agar kamu dapat mengambil pelajaran"
(Qs an-Nahl/16:90)

Bahaya Firqah Liberal

(Oleh: Ustadz Abu Hamzah Agus Hasan Bashari)
Islam adalah dien al-haq yang diwahyukan oleh Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya yang terakhir Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai rahmat bagi semesta alam dan sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Ta’ala sesuai dengan firman Allah Ta’ala:

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.”
(QS. 48: 28)

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
(QS 21:107)

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS 3:19).

Semua Agama Sama ?

(Oleh: Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari)

Pernahkah anda bertemu dengan orang yang mengatakan: “Semua agama sama”? Jika ya, hati-hatilah kemungkinan dia adalah setan!

Beberapa tahun belakangan ini tersebar pemahaman bahwa “semua agama sama”, “semua agama mengajarkan kebaikan”, “tidak boleh menganggap agamanya saja yang benar”, dan fikiran-fikiran sesat lainnya.

Anggapan-anggapan sesat di atas sebenarnya sudah ada semenjak dahulu. Orang-orang musyrik jahiliyyah memiliki keyakinan demikian, sehingga pernah menawarkan kepada Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam untuk mempersatukan agama mereka dengan agama Islam.
Hal itu ditolak dengan tegas di dalam surat Al-Kafirun, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya. Orang-orang sesat kebatinan pun banyak yang berkeyakinan seperti itu. Yang kemudian menyebar kepada orang-orang awam.

Sepak Terjang Syi’ah di Indonesia

(Oleh: Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat)
Perjalanan kaum Syi'ah di negeri ini semakin jelas. Dimulai ketika terjadi revolusi Iran yang mengantarkan ajaran atau (tepatnya disebut) dîn (agama) Syi'ah menguasai Iran sebagai agama penguasa setelah pemerintahan Reza Pahlevi runtuh. Setelah terjadi revolusi di Iran di penghujung tahun 1979, mereka mulai menyebarkan ajaran mereka keseluruh negeri Islam dengan mengatas-namakan dakwah Islam. Terutama ke negeri Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah kaum Muslimin.
Ada tiga faktor yang menyebabkan Syi'ah mudah masuk ke Indonesia. Yaitu:

Pertama, kaum Muslimin terbelakang dalam pemahaman terhadap aqidah Islam yang shahîhah (benar) yang berdasarkan al-Qur’ân dan Sunnah.
Kedua, mayoritas kaum Muslimin pada saat itu sangat jauh dari manhaj Salafush Shâlih. Mereka hanya sekedar mengenal nama yang agung ini, namun dari sisi pemahaman pengamalan dan dakwah jauh sekali dari pemahaman dan praktek Salaful Ummah (generasi terbaik umat Islam). Memang ada sebagian kaum Muslimin yang menyeru kepada al-Qur’ân dan Sunnah, tetapi menurut pemahaman masing-masing tanpa ada satu metode yang akan mengarahkan dan membawa mereka kepada pemahaman yang shahîh (benar).

Meraih Iman yang Sempurna


Sesungguhnya seluruh kebaikan bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat tergantung pada iman yang benar.

Dengan iman, seorang hamba akan hidup dengan bahagia dan selamat dari berbagai keburukan dan kesusahan di dunia dan akhirat.

Dengan iman, seorang hamba akan meraih pahala dan masuk surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga yang penuh dengan kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, maupun terlintas pada hati manusia. Demikian juga, dengan iman seorang hamba akan selamat dari neraka.

Mewaspadai Zina dan Penyebabnya


Allâh Ta'ala telah mengharamkan semua perbuatan keji, yang nampak maupun yang tidak nampak. Allâh Ta'ala juga melarang mendekati segala perbuatan keji itu serta memerintahkan agar menjauhi dan menutup segala akses yang bisa menyeret kearah perbuatan terlarang. Semua itu sebagai wujud rahmat (kasih sayang) Allâh Ta'ala kepada para hamba dan wujud penjagaan yang Allâh Ta'ala berikan kepada para hamba-Nya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakan di dunia dan akhirat mereka.

Hakikat Mudharabah

(Oleh: Ustadz Abu Asma’ Kholid Syamhudi)
Hal lumrah jika seseorang ingin agar hartanya dapat memiliki nilai tambah. Sehingga seseorang selalu berusaha untuk mengembangkan harta yang dimilikinya, bisa dengan memutarnya dalam dunia perdagangan, atau pun dengan menanamkan investasi dalam bidang tertentu. Sementara itu, terkadang sebagai pemilik, seseorang tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkannya, sehingga ia membutuhkan orang lain untuk membantunya atau dengan melakukan kerjasama. Disinilah kemudian dibuat kesepahaman dalam pengembangan usaha tersebut, sehingga bisa saling menguntungkan. Salah satu jenis bentuk kerjasama dalam Islam, yaitu apa yang dikenal dengan istilah mudharabah.

Zuhud yang Banyak Disalah Pahami

(Dirangkum oleh Ustadz Abu Ashim)
Dalam pengertian banyak orang, zuhud adalah menghindari hal-hal yang bersifat keduniaan. Mereka tidak mengerti, mana perkara-perkara duniawi yang tercela, yang harus ditinggalkan, dan mana yang boleh didekati. Sehingga iblis berkesempatan mempermainkan mereka. Lahirlah anggapan bahwa seseorang tidak akan selamat akhiratnya, kecuali jika meninggalkan dunia seisinya. Kalau perlu menyendiri di suatu tempat terpencil, khusus untuk melakukan peribadatan kepada Allâh Ta'ala. Meskipun dengan meninggalkan keluarga, orang tua dan bahkan shalat berjama’ah serta shalat Jum’at. Sebagian orang menganggap, inilah zuhud yang hakiki. Persepsi semacam ini muncul lantaran kedangkalan terhadap ilmu agama.[1]
Orang awam yang jenuh dengan gemerlap dunia, atau muak melihat kepalsuan serta tipu muslihat dunia dan ingin mendapatkan ketenteraman rohani, mungkin akan mudah terperangkap dalam pengertian zuhud di atas. Ia akan lahap untuk mendengarkan secara salah ayatayat, hadits-hadits serta ceramah-cermah yang berisi celaan terhadap dunia. Asal berbau dunia, semuanya buruk dan negatif. Akhirnya akan berasumsi bahwa keselamatan akhirat hanya dapat diraih dengan meninggalkan dunia, meningalkan pekerjaan dan bermalas-malasan dengan dalih ibadah.

Bila Budaya Korupsi Meracuni Birokrasi

(Oleh: Ustadz Zainal Abidin, Lc)

BUDAYA KORUPSI MAKIN BERKARAT
Masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan kata korupsi bahkan rakyat jelata yang tinggal dipelosok desa pun mengenal korupsi. Gerakan anti korupsi digelar disetiap tempat, gerakan pemberatasan KKN digulirkan dan jihad melawan kriminal birokrasi ditegakkan dengan harapan prilaku insan birokrasi dan sistem pemerintahan berubah menjadi lebih baik.
Hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia berkeinginan negerinya yang tercinta bebas dari penyakit korupsi serta sistem birokrasi yang ruwet sehingga tercipta sistem sosial, politik dan ekonomi yang adil, bermoral dan agamis. Namun harapan indah itu saat ini seakan hanya ada dalam angan-angan bahkan mungkin sebuah mimpi karena betapa banyak usaha yang telah dilakukan namun penyakit ini seakan sudah mengakar kuat kuat sehingga tidak bergeming. Bahkan berbagai bencana yang mendera negeri kita belum juga mampu merubah perilaku para koruptor dan para birokrat.

Malang Nian Nasib Sang Koruptor

(Oleh: Ustadz Abu Ihsan al-Atsary)

Sungguh malang nasib para koruptor itu. Kekayaan hasil korupsi yang mereka kumpulkan ternyata tidak membawa manfaat apapun bagi mereka. Harta tidak berkah itu justru menjadi sumber malapetaka. Di dunia mereka mendapat kehinaan dan ancaman hukuman yang berat. Di akhirat kelak telah menunggu siksa yang keras bagi mereka.
Coba lihat akibat buruk perbuatannya, semua manusia mengutuknya dan mendoakan keburukan atas dirinya. Harta yang diperolehnya juga tidak membawa berkah. Berapa banyak koruptor yang mati secara tersiksa karena penyakit yang dideritanya, harta hasil kejahatannya itu habis terkuras sedikit demi sedikit untuk biaya pengobatan.
Sebagian orang yang silau dengan harta yang menumpuk mengira para koruptor itu benar-benar bahagia. Mereka mengira para koruptor itu bisa mendapatkan apa saja dengan harta yang melimpah. Ini adalah penilaian yang keliru. Siapa bilang hidup para koruptor itu enak!? Hidup mereka diliputi rasa takut dan khawatir. Takut dan khawatir kejahatan mereka terbongkar. Hati mereka galau dan senantiasa dalam kekalutan. Itulah hakikat dosa, yaitu sesuatu yang mengganjal dalam hatimu dan engkau khawatir orang lain mengetahuinya.

Salah Memaknai 'Iedul Fitri

(Oleh: Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin)

Bagi kalangan tertentu, bulan Ramadhân yang penuh berkah ini merupakan bulan beban. Ibadah-ibadah di bulan Ramadhân terutama ibadah puasa dianggap sebagai penghambat kesempatan. Meskipun dia tetap menunaikan ibadah puasa, namun tidak dengan sepenuh hati.
Sementara kalangan yang lain menganggap, ibadah puasa di bulan Ramadhân merupakan rutinitas yang menjanjikan dan berakhir menyenangkan. Sebab sesudah Ramadhân ada hari raya, 'Iedul Fitri.
Para pedagang, sejak jauh-jauh hari sebelum Ramadhân tiba, mereka sudah bersiap melakukan stock barang sebagai persiapan untuk meraup keuntungan melimpah di bulan suci ini. Bahkan banyak pedagang musiman yakni khusus bulan Ramadhân. Para karyawan, pegawai, pekerja, buruh dan lain-lain yang bekerja di luar kota pun punya harapan untuk cuti menjelang hari raya sampai dengan beberapa hari sesudah hari raya.

Shalawat Nariyah Dalam Timbangan

(Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA)

Di kalangan kaum Muslimin Indonesia, amat banyak teks shalawat yang tersebar. Seperti, shalawat Fâtih, shalawat Munjiyât, shalawat Thibbul Qulûb, shalawat Wahidiyyah, dan -tidak lupa sorotan kita- shalawat Nâriyyah. Tidak hanya mencukupkan diri dengan teks shalawat yang dikarang kalangan klasik, mereka juga mengandalkan redaksi-redaksi yang diciptakan kalangan kontemporer. Contohnya, shalawat Wahidiyyah yang dibuat pada tahun 1963 oleh salah satu penduduk Kedunglo Bandar Lor Kediri, KH. Abdul Majid Ma’rûf.[1]
Selain itu, mereka juga sangat ‘kreatif’ dalam membuat aturan-aturan bagaimana membaca berbagai jenis shalawat tersebut, baik dari sisi jumlah bacaan, waktu pembacaan, hingga fadhilah (keutamaan) yang akan diraih oleh pembacanya. Seakan-akan itu semua ada landasannya dari syariat.
Shalawat Nâriyyah merupakan salah satu shalawat yang paling masyhur di antara shalawat-shalawat bentukan manusia. Orang-orang berlomba untuk mengamalkannya, baik dengan mengetahui maknanya, maupun tidak memahami kandungannya. Bahkan justru barangkali orang jenis kedua ini yang lebih dominan. Banyak orang serta merta mengamalkannya hanya karena diperintah tokoh panutannya, kerabat dan teman, atau tergiur dengan “fadhilah” tanpa merasa perlu untuk meneliti keabsahan shalawat tersebut, juga kandungan makna yang terkandung di dalamnya.
Apakah shalawat Nâriyyah itu ? Siapakah pencipta shalawat Nâriyyah ? Benarkah pengarangnya adalah sahabat Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam ? Apakah membaca shalawat Nâriyah berarti mengagungkan Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam ? Bagaimana nasehat ulama dalam mengagungkan Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam ?
Silahkan simak pembahasannya di Majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun 2010 (Oktober 2010).
[1]
Lihat: Âtsâr ash-Shalawât al-Wâhidiyyah fî Akhlâq Thullâb Ma’had at-Tahdîb Ngoro Jombang ‘Âm: 2004, skripsi Institut Studi Islam Darussalam Gontor, yang disusun oleh Ahmad Luthfi Ridha.

Islam Adalah Rahmat, Bukan Ancaman (*)

(Oleh: Syaikh 'Ali bin Hasan al-Halaby)
Saya tidak lupa menyebut satu hal yang nantinya menjadi pijakan tema sekarang ini, yaitu rahmat Islam dan rahmat Nabi Islam. Sungguh saya bisa merasakan dan melihat rahmat ada pada masyarakat muslim di negeri yang baik ini. Mereka mencintai Allâh dan Rasul-Nya, serta mencintai kebenaran yang datang dari Rabb dan Rasul-Nya. Ini adalah keistimewaan yang tiada bandingannya. Sebuah karakter yang sedikit sekali orang yang menghiasi diri dengannya pada masa sekarang ini. Dan memang semakin jauh dari masa nubuwwah, maka kebaikan semakin sedikit. Seperti yang dikatakan Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam:
hadist
Tidak ada satu masa (yang datang),
kecuali masa setelahnya itu lebih buruk darinya,
sampai kalian menjumpai Rabb kalian.
(HR at Tirmidzi, no. 2132)

Mengapa Musibah Terus Mendera ?[*]

(Mabhats: Majalah As-Sunnah Edisi 01/XI)

Sesungguhnya kami memuji Allâh Tabaraka wa Ta’ala atas apa yang telah Dia siapkan, berupa kesempatan yang baik ini. Yaitu, kami berkumpul di dalam kesempatan ini dengan ikhwan kami seagama dan dalam satu manhaj (jalan); mengikuti Kitabullah, dan Sunnah Rasulullah, serta pemahaman para Salaf yang shalih. Walaupun kita berada dalam batas geografi yang berbeda, dan tempat yang saling berjauhan, namun kemuliaan manhaj ini, kesempurnaan dan kebaikannya, tidaklah memecah-belah antar kita. Maka, jadilah pertemuan ini dalam bagian sejumlah perjumpaan yang telah mengumpulkan kami bersama saudara-saudara kami di negara ini, sejak beberapa tahun yang lalu, lewat ceramah-ceramah dan kajian-kajian ilmiah bersama.
Kami bersyukur kepada Allâh Rabbil ‘Alamin atas nikmat ini. Betapa berharganya kenikmatan ini. Rasa terima kasih juga kami haturkan kepada orang-orang yang memiliki jasa (andil) yang diberkahi dalam mengatur dan menyiapkan pertemuan-pertemuan ini. Khususnya, saudara-saudara (panitia) atau Ta’mir Masjid Istiqlal yang telah memberikan kesempatan ini. Dan ini termasuk dalam bingkai saling menolong yang terpuji secara syar’i.

Arti Penting Sunnah Sebagai Solusi Bagi Problema Umat[*]

(Mabhats: Majalah As-Sunnah Edisi 01/XI)
Setelah menyampaikan pujian kepada Allâh Ta'ala, bershalawat atas Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dan khutbatul-hajah, kemudian Fadhilatusy-Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali menyampaikan muhadharahnya.
Sungguh, kejadian-kejadian yang menimpa umat Islam dan menyapu negeri mereka, sebenarnya tercakup dalam konteks firman Allâh Ta’ala:
(QS ar-Ra’d/13:11)
Sesungguhnya Allâh tidak merubah keadaan suatu kaum
sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
(QS ar-Ra’d/13:11)

Ketentuan Dasar Dakwah Salafiyah[1]

(Oleh: Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr)

Setelah menyampaikan pujian kepada Allâh Ta'ala, bershalawat atas Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dan khutbatul-hajah, kemudian Fadhilatusy-Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr menyampaikan muhadharahnya.
Wahai saudara-saudaraku yang hadir dari dalam dan luar negeri demi menyambut kedatangan ikhwan kalian dari negeri yang jauh. Segala puji bagi Allâh Ta'ala yang telah mengumpulkan kita semua diatas ketaatan kepada Allâh Ta'ala dan manhaj salaf yang benar.
Wahai ikhwah ......

Kaidah-Kaidah Memahami Fitnah[1]

(Oleh: Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman[2])

Pembahasan seputar fitnah merupakan perkara yang sangat penting. Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam banyak memberikan perhatian yang nyata terhadap hal ini. Seorang muslim hendaklah memahami permasalahan ini secara benar, dengan menempatkan nash-nash pada tempatnya. Dia tidak boleh memahaminya dengan apa yang tidak dikehendaki oleh Rabb kita dan Nabi kita Shallallâhu 'Alaihi Wasallam.
Ketika mendengar nash-nash tentang masalah ini (masalah fitnah), sepantasnya seorang muslim memahami kulliyyat (hal-hal prinsip) dan perkara-perkara mujmal (global). Hal itu tidak boleh lepas dari perhatiannya selama-lamanya.
Tema yang akan kita bicarakan adalah tentang fitnah, bagaimana kita menjauhinya, dan apa saja hal-hal yang jika kita tempuh akan menjauhkan diri kita dan masyarakat kita dari fitnah.
Sebelum kami sebutkan sebab-sebab (yang menjauhkan diri kita dan masyarakat kita dari fitnah), kami akan menerangkan sebagian perkara yang memiliki hubungan dengan sebab-sebab tersebut. Hal ini sebagai muqaddimah.

Kiat-Kiat Mendapatkan Syafa'at[*]

(Oleh: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

Pada hari Kiamat nanti, tidak ada yang dapat menolong seorang hamba, kecuali Allâh Ta'âla, kemudian amal-amal shalih yang dikerjakan seorang hamba, serta syafa’at Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam.
Berikut ini kiat-kiat yang dapat dilakukan seorang muslim untuk mendapatkan syafa’at, yaitu :

1.
Tauhid dan Mengikhlaskan Ibadah Kepada Allâh Ta'âla Serta Ittiba’ Kepada Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam.





Tidak diragukan lagi bahwa tauhid sebagai penyebab yang paling besar untuk mendapatkan syafa’at pada hari Kiamat. Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam pernah ditanya:
“Siapakah orang yang paling bahagia dengan syafa’atmu pada hari Kiamat?”
Nabi menjawab :
hadits
“Yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat adalah, orang yang mengucapkan Laa ilaahaa illallaah
dengan ikhlas dari hatinya atau dirinya”.
(HR Bukhari, no. 99)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...